CERPEN                

Ku Kenang Selamanya

Namaku Ali akhir. Aku adalah seorang perempuan berusia 16 tahun. Aku tinggal di sebuah desa yang yang tak banyak orang mengetahuinya. Desa itu bernama Desa Palagrang. Aku masih ingat ketika aku masih duduk dibangku SMP. Ketika aku belum mengerti segala hal tetapi disanalah aku menemukan sesuatu yang belum pernah aku temukan sebelumnya.
            Saat pertama kali aku masuk SMP, aku sangat senang. Aku bertemu dengan orang-orang yang belum ku kenal sebelumnya dan mereka menjadi teman baruku.
 “Hai, nama kamu siapa? Berasal dari sekolah mana?” Mereka bertanya kepadaku.
“Hai juga, namaku Ali akhir, aku berasal dari SDN 1 Pancalagrang.” Jawabku.
Salah satu dari mereka mengatakan bahwa tubuhku pendek sekali tetapi lucu dan imut. Aku hanya tersenyum menanggapi perkataan mereka.
            Hari itu adalah hari senin, dimana semua siswa wajib mengikuti kegiatan upacara bendera. Aku baris dibarisan paling depan dan aku mengikuti jalannya upacara bendera. Setelah selesai kegiatan upacara bendera, ada acara perkenalan guru-guru yang ada di sekolahku.
            Pada saat itu, guru-guru maju ke depan untuk memperkenalkan dirinya. Dari semua guru tersebut, aku terpikat pada satu guru yang selalu memberikan senyumannya padaku, dari awal kegiatan sampai acara perkenalan itu berakhir. Guru tersebut bernama Ibu Aah. Beliau adalah guru ips. Saat kami bertemu, Ibu Aah bertanya padaku.
“ Siapa namamu nak?” Tanya Ibu Aah.
“ Namaku Ali akhir bu.” Jawabku padanya.
Saat pembelajaran pertama kali dimulai guru yang masuk ke kelasku adalah Ibu Aah. Beliau menjelaskan pada kami sangat jelas hingga kami mudah menyerap pelajaran yang diajarkan olehnya. Lama-kelamaan aku menyukai pelajarannya. Saat ada pelajaran ips, aku belajar dengan sungguh-sungguh sebelumnya sehingga aku bisa menjawab semua pertanyaan yang beliau tanyakan pada kami dan karena itu Ibu Aah sering memanggilku untuk menjawab pertanyaannya. Aku juga selalu menjadi siswa yang suka merangkum materi yang akan diajarkan oleh Ibu Aah sehingga aku selalu mendapat nilai lebih besar dibandingkan nilai teman-teman yang lain.
            Seiring berjalannya waktu, aku dan Ibu Aah semakin dekat dan akhirnya beliau menjadi guru favoritku disekolah. Saat pelajaran kosong atau jam istirahat, aku lebih sering dikantor untuk membantu beliau seperti memeriksa hasil ulangan,memasukkan nilai siswa ke daftar nilai, dan lain-lain. Ibu Aah juga selalu memotivasiku agar aku selalu semangat belajar dan meraih cita-cita yang aku inginkan.
            Saat mau menjelang ujian kenaikan kelas, Ibu Aah berpesan padaku agar aku selalu semangat belajar dan bisa menjadi juara kelas. Karena motivasi dari guru favorit, aku semakin bersemangat dalam belajar dan aku mempunyai keinginan untuk bisa jadi juara kelas agar orang tua dan guru yang aku favoritkan bangga padaku.
            Ujian kenaikan kelas pun telah tiba. Aku mendapat tempat duduk dibarisan ketiga dan teman sebangkuku adalah siswa kelas III. Kakak itu bernama kak Krisna, dia sangat baik dan selalu tersenyum sehingga aku tidak merasa canggung ketika bertemu dengannya saat ulangan. Sejak saat itu, kak Krisna sering menyapaku ketika berpapasan dimana saja.
            Hari demi hariku lewati dan kini ujian tersebut telah berakhir, sekarang aku hanya menunggu hasilnya. Sebenarnya aku sudah merasa lega karena ujian itu sudah berakhir, namun entah mengapa aku merasa gelisah, aku takut nanti hasilnya tidak memuaskan dan aku tidak bisa membuat bangga orang yang ku sayang.
***
            Pagi yang cerah, ku awali pagi itu dengan senyuman. Aku berangkat ke sekolah. Sesampainya di sekolah, aku bertemu dengan Ibu Aah. Ibu Aah menyapa dan bertanya padaku.
“ Ali.” Sapa Ibu Aah.
“ Ibu.” Membalas sapaan Ibu Aah sambil tersenyum.
“ Bagaimana ulangannya li? Susah atau mudah soalnya?” Tanya Ibu Aah padaku.
‘ Alhamdulillah soalnya bisa aku jawab semua, tapi aku takut salah isinya bu.” Jawabku
“ Ibu yakin jawaban kamu banyak yang benernya. Berdoa aja semoga nilai kamu bisa menjadi nilai yang tertinggi sehingga kamu bisa jadi juara kelas dan juara umum di sekolah ini.” Jawab Ibu Aah sambil meyakinkanku.
“ Iya bu, aminn. Terima kasih ya bu.” Kataku pada Ibu Aah.
“ Iya li sama-sama. Semangat terus ya.” Kata Ibu Aah sambil tersenyum padaku.
“ Iya bu, pasti semangat.” Jawabku sambil membalas senyumannya.
            Beberapa hari sebelum pembagian rapot, ada salah satu temanku yang bernama Hartati. Dia mengatakan selamat padaku.
“ Selamat ya li.” Kata Hartati.
“ Selamat untuk apa?” Tanyaku.
“ Nanti juga kamu tahu li.” Jawabnya.
“ Selamat untuk apa Hartati? Tolong beri tahu aku!” Pintaku.
“ Aku mau pergi dulu ya li. Sampai jumpa.” Kata Hartati sambil pergi meninggalkanku.
Aku merasa penasaran tetapi Hartati tidak memberi tahu mengapa dia mengucapkan selamat padaku dan dia pergi begitu saja meninggalkanku.
            Hari menegangkan pun telah tiba, dimana pada hari itu aku akan tahu hasil belajarku selama dua semester di sekolah ini. Sebelum berangkat ke sekolah, aku meminta doa kepada orang tuaku. Semoga hasil yang akan ku terima itu memuaskan dan dapat membuat bangga orang yang ku sayang.
“ Bu, doakan Ali ya semoga nilai dirapot Ali semuanya besar dan Ali bisa jadi juara kelas dan juara umum di sekolah.” Kataku pada ibu sambil memegang tangan ibuku.
“ Iya, nak. Ibu doakan nilai rapot kamu semuanya bagus dan bisa menjadi juara di sekolahmu.” Jawab ibu sambil mengusap pundakku.
“ Aminn. Terima kasih bu. Ali berangkat dulu ya bu.” Kataku sambil mencium tangan ibuku.
“ Iya, nak. Hati-hati ya.” Kata ibuku.
            Sesampainya di sekolah, aku duduk dikursiku yang terletak dibarisan paling depan. Saat aku sudah duduk dikursiku, hati ini mulai tak tenang. Aku selalu berfikiran bagaimana kalu nilaiku jelek dan tidak bisa membuat bangga orang yang ku sayang. Akhh tidak.
“ Aku yakin, aku pasti bisa membanggakan orang yang ku sayang.” Kataku dalam hati.
            Pembagian rapot pun dimulai. Wali kelasku yang bernama Bapak Andri, masuk ke kelas dan diikuti oleh dua orang siswa yang membawa rapot. Jantungku semakin berdegup kencang namun aku bersikap tenang agar orang lain mengira aku baik-baik saja. Setelah itu Bapak Andri mengeluarkan selembar kertas lalu mengumumkan siapa saja yang masuk juara 10 besar.
            Saat Bapak Andri mau menyebutkan siapa yang menjadi juara 1, jantungku semakin berdegup lebih kencang dari sebelumnya dan akhirnya namaku terpanggil sebagai juara kelas. Aku pun disuruh maju ke depan kelas.
“ Silahkan Ali maju ke depan kelas.” Kata Bapak Andri.
“Iya, Pak.” Jawabku.
Tak ku sangka ternyata aku juga menjadi juara umum di sekolah.
“ Ini Ali hadiah untukmu sebagai Juara Kelas dan Juara Umum. Selamat ya.” Ucap Bapak Andri sambil memberikan hadiah padaku.
“ Iya, terima kasih ya Pak.” Jawabku.
Aku sangat bahagia karena apa yang aku inginkan semuanya tercapai dan aku bisa membanggakan orang yang ku sayang.
“ Silahkan kembali ke tempat dudukmu.” Kata Bapak Andri.
“ Baik Pak.” Jawabku.
“ Selamat ya li.” Kata teman-teman sekelasku.
“ Iya, terima kasih teman-teman.” Kataku pada mereka.
            Setelah selesai pembagian rapot, aku keluar kelas dan bertemu dengan Ibu Aah.
“ Ibu.” Kataku sambil tersenyum.
“ Ali. Selamat ya kamu bisa jadi Juara 1 dan Juara Umum juga.” Kata Ibu Aah sambil memberikan senyumannya.
“ Iya bu. Alhamdulillah aku bisa menggapai apa yang aku inginkan.” Jawabku sambil membalas senyumannya.
“ Ibu bangga padamu li.” Kata Ibu Aah padaku.
“ Terima kasih bu.” Kataku.
“ Ya sudah, ibu pergi dulu ya. Ibu masih ada urusan. Sekali lagi selamat ya li.” Kata Ibu Aah sambil pergi meninggalkanku.
‘ Iya, bu.” Jawabku.
            Aku pulang ke rumah. Sesampainya di rumah, aku segera menunjukkan nilai rapotku pada ibuku.
“ Ibu, coba lihat laporku! Nilainya sangat memuaskan bu.” Kataku sambil menunjukkan rapotku.
“ Oh iya nak, nilaimu bagus sekali.” Kata ibu.
“ Selain itu, aku juga jadi Juara1 dan Juara Umum juga loh bu.” Kataku.
“ Kamu hebat nak, ibu senang mendengarnya.” Kata ibuku sambil tersenyum.
***
Aku naik ke kelas 8 atau kelas 2 SMP
Hari demi hari telah berlalu. Hari ini adalah hari dimana aku memulai pelajaran di semester yang baru. Aku berangkat dari rumah dengan penuh semangat.
“ Ibu.” Aku memanggil ibu.
“ Iya, nak.” Jawab ibuku.
“ Aku mau berangkat sekolah dulu ya bu.” Kataku pada ibu sambil mencium tangannya.
“ Hati-hati ya nak.” Kata ibuku.
“ Iya, bu.” Jawabku sambil pergi meninggalkan ibu.
            Sesampainya di sekolah, aku bertemu dengan teman-teman. Mereka seperti sedang membicarakan sesuatu.
“ Hai teman-teman.” Sapaku.
“ Hai juga li.” Kata mereka membalas sapaanku.
“ Bagaimana nilai lapor kalian?” Tanyaku pada mereka.
“ Cukup baik.” Kata salah satu temanku yang bernama Intan.
“ Alhamdulillah nilai rapotku bagus semua.” Kata salah satu temanku juga yang bernama Yani.
“ Oh iya, selamat ya li. Cieee jadi juara 1 dan juara umum pula.” Kata mereka padaku.
“ Iya, terima kasih.” Jawabku sambil tersenyum.
“ Ya sudah, aku ke kelas dulu ya teman-teman.” Kataku pada mereka sambil melambaikan tangan.
" Iya, nur." Kata mereka sambil melambaikan tangan.

Awal yang baru di kls 2 SMP, aku merasa baik-baik saja. Ku jalani hidup sesuai jalannya. Aku semakin semangat bersekolah dan aku ingin mencapai prestasi yang membanggakan. Aku lebih dekat dengan teman-teman mungkin karena kami sudah mengenal satu sama lain selama satu tahun.
            Di kelas 2 SMP ini aku mengikuti dua organisasi yaitu OSIS dan Pramuka. Aku terpilih menjadi salah satu anggota OSIS saat kelas 1 SMP tetapi tugas yang kuterima tidak terlalu berat seperti saat aku menjabat di kelas 2 SMP. Di kelas 2 SMP aku menjabat sebagai Sekretaris OSIS tugasku adalah mengurus masuk dan keluarnya surat di sekolah. Tugasku ini cukup berat karena terkadang hampir setiap hari ada surat yang masuk dan surat yang keluar di sekolah tetapi aku sangat senang bisa mengikuti organisasi OSIS di sekolah karena dengan begitu aku memiliki pengalaman yang tak akan ku dapatkan saat aku tidak bersekolah lagi.
            Aku juga mengikuti organisasi Pramuka di sekolah. Jabatanku ini lebih berat dibandingkan dengan menjabat sebagai Sekretaris OSIS. Mengapa aku bilang lebih berat? Karena aku menjabat sebagai Ketua Pramuka. Cukup hebat bukan saat kita mendengar orang yang menjabat sebagai Ketua Pramuka? Awalnya sih, aku juga menganggap orang yang menduduki jabatan sebagai Ketua di organisasi apapun itu hebat namun saat aku yang menduduki jabatan tersebut ternyata biasa saja. Mengapa aku bilang biasa saja? Karena aku sudah terbiasa.... Hehehe...
Saat menduduki jabatan sebagai Ketua Pramuka, aku dituntut lebih bertanggung jawab karena suatu organisasi dapat berjalan dengan baik salah satu faktornya adalah seorang pemimpin. Mengapa aku bilang seperti itu? Karena apabila pemimpinnya baik maka organisasi itu bisa berjalan dengan baik dan begitu juga sebaliknya. Jadi seorang Ketua Pramuka juga harus tegas. Mengapa? Yaitu agar anggota atau bawahan kita bisa disiplin dan patuh atas perintah kita.
            Jangan malu dan takut menjadi seseorang yang ikut organisasi dan menduduki jabatan  yang berat dalam organisasi tersebut karena jabatan, guru-guru lebih mengenalku dan akhirnya aku bisa dekat dengan Pembina Pramuka yaitu Bapak Andri wali kelasku saat aku masih kelas 1 SMP. Memang ada senang dan tidak senangnya saat kita menjalankan  jabatan tersebut tetapi kita harus menjalankan semua itu dengan sabar dan ikhlas.
Aku dapat memetik pelajaran dari semua jabatan yang aku miliki saat itu yaitu saat kita menjadi seorang pemimpin atau seorang yang dipimpin jalankanlah tugas  dengan baik dan penuh tanggung jawab dan satu lagi suka atau tidaknya dengan jabatan yang kita miliki tergantung sikap kita dalam menjalakan semuanya. Banyak orang yang awalnya tidak suka tapi pada akhirnya mereka menyukai jabatan atau organisasi tersebut.
***
            Hari untuk menguji kemampuan pembelajaran di sekolah pun telah tiba. Aku mempersiapkan semuanya dengan matang agar hasil yang aku peroleh baik dan memuaskan. Aku berangkat dari rumah pukul 06.30. Aku berpamitan pada orang tuaku.
“ Ibu, Ali mau berangkat sekolah. Do’akan Ali ya bu semoga hasilnya bisa memuaskan dan bisa membanggakan ibu lagi.” Pintaku pada Ibu.
“ Iya nak, ibu selalu mendoakanmu.” Kata ibuku sambil memelukku.
“ Terima kasih bu.” Aku mengecup tangan ibuku.
“ Hati-hati ya nak.” Ucap Ibuku.
“ Iya bu.” Jawabku.
            Sesampainya di sekolah aku segera menuju ruang kelas yang sudah dipersiapkan untuk ulangan. Ruang ulanganku terletak di lantai atas sebelah kiri. Pagi itu aku bertemu dengan guru favoritku.
“ Ali.” Panggil Ibu Aah.
“ Iya bu, ada apa?” Aku bertanya sambil tersenyum.
“ Ibu yakin ulangan kali ini kamu bisa mendapat Juara Kelas dan Juara Umum lagi.” Kata Ibu Aah.
“ Amin. Semoga aku bisa mempertahakan prestasiku. Do’akan aku juga ya bu.” Pintaku pada Ibu Aah.
“ Iya li, ibu akan mendoakanmu.” Kata ibu Aah sambil tersenyum.
“ Aku masuk kelas dulu ya bu. Assalamu’alaikum.” Aku salam kepada Ibu Aah lalu berpamitan.
“ Waalaikumussalam.” Kata Ibu Aah menjawab salamku.
            Aku sudah berada didalam ruang kelas. Banyak orang yang masih belajar untuk mempersiapkan ulangan hari ini. Ulangan pun dimulai. Aku mulai mengisi soal-soal yang ku dapat. Alhamdulillah pelajaran yang kupelajari semuanya keluar di ulangan tadi. Aku tambah semangat untuk belajar dan menyelasaikan ulangan sampai hari terakhir dengan nilai yang baik dan memuaskan.
***
            Ulangan pun selesai dan sekarang aku tinggal menuggu hasilnya. Hari berganti hari dengan cepat dan sampailah pada hari sabtu dimana hasil ulangan semester akan dibagikan dan semua siswa akan mengetahui hasil mereka masing-masing termasuk diriku sendiri. Wali kelasku masuk lalu membagikan rapot para siswa. Saat wali kelasku menyebutkan Juara kelas, jantungku berdegup kencang sekali seperti saat aku kelas 1 SMP. Dan akhirnya namaku terpanggil sebagai Juara Kelas dan Juara Umum juga.
            Aku sangat senang akhirnya aku bisa mempertahankan prestasiku dan aku bisa membanggakan orang yang ku sayang terutama ibuku. Saat aku hendak pulang aku bertemu lagi dengan Ibu Aah.
“ Bagaimana li hasilnya? Memuaskan?” Tanya ibu Aah.
“ Alhamdulillah bu memuaskan sekali. Aku mendapat Juara kelas dan Juara Umum lagi.” Jawabku sambil tersenyum.
“ Selamat ya li atas prestasi yang dapat kamu pertahankan.” Kata Ibu Aah sambil tersenyum dan memegang tanganku.
“ Iya bu terima kasih.” Jawabku sambil tersenyum.
“ Aku pulang duluan ya bu.” Kataku sambil salam pada ibu Aah.
“ iya li.” Kata ibu Aah sambil melambaikan tangan.
            Aku pulang ke rumah dan segera memberi tahu ibu tentang hasil belajarku di kelas 2 SMP ini, tak lupa juga aku akan memberi tahu ibu bahwa aku mendapat Juara Kelas dan Juara Umum lagi. Ibuku sangat bahagia mendengar berita yang aku bawa. Ibu memelukku lalu memberikan hadiah kepadaku karena aku berhasil mempertahankan prestasiku. Aku bahagia sekali hari itu.
                                                                      ***
Hari demi hari terus berganti. Tak terasa aku sudah kelas 3 SMP. Aku tak menyangka wali kelasku adalah guru favoritku yaitu ibu Aah. Aku sangat senang dan semakin bersemangat dalam belajar untuk meraih cita-cita. Karena Ibu Aah menjadi wali kelasku, hubunganku dengan guru favoritku  itu menjadi lebih dekat lagi. Aku merasa beliau seperti orang tuaku. Beliau sangat perhatian padaku. Oleh sebab itu, jika aku merasakan sesuatu yang mengganjal dihati, aku menceritakan semuanya kepadanya.
            Pembelajaran pun dimulai dan tepat pada awal pembelajaran, diawali dengan pelajaran ips (guru yang aku favoritkan). Saat masuk ke kelas, guru favoritku memberikan senyuman padaku lalu menyapaku.
Ibu Aah bertanya, “Apa kabar Ali? Bagaimana keadaanmu?”
“Alhamdulillah bu, aku baik-baik saja.” Kataku kepadanya.
“ Liburan kemana li selama dua minggu kemarin?” Tanya ibu Aah kepadaku.
“ Di rumah saja bu, membantu orang tua.” Jawabku.
“ Lebih baik di rumah membantu orang tua daripada main-main gak jelas.” Ucap ibu Aah.
“ Iya bu.” Balasku.
Sungguh benar-benar bahagia, awal pembalajaran disapa oleh guru yang aku favoritkan. Seperti biasa, aku sering menjawab pertanyaan yang ibu Aah tanyakan. Terlihat dari raut wajahnya bahwa ibu Aah bahagia melihat aku lebih aktif dalam pelajarannya. Aku pun merasa senang.
            Hari demi hari ku lewatkan dengan penuh semangat, meskipun dalam kenyataannya tidak mungkin apa yang aku lakukan selamanya berjalan sesuai keinginanku karena pasti ada rintangan untuk menguji kita. Aku lewati semua itu dengan sabar dan dan penuh dengan rasa semangat. Rasa sabar dan rasa semangat itulah yang bisa mengalahkan semua rintangan yang aku hadapi. Aku bersyukur bisa bertemu dengan seseorang yang bisa membuatku menjadi lebih baik dan selalu memotivasiku agar aku lebih semangat untuk menggapai apa yang ku inginkan.
***
Waktu telah berlalu dengan begitu cepat hingga sampai pada hari dimana aku harus berpisah dengan guru favoritku.  Hari itu penuh dengan rasa yang tak pasti (rasa senang dan rasa duka).
“Apakah aku harus bahagia atau bersedih?” Aku bertanya-tanya dalam hati.
Saat acara perpisahan dimulai, hatiku semakin tak karuan namun aku tetap tersenyum untuk menutupi semua kesedihan yang aku alami. Ketika memberi sebuah kenangan terakhir yang akan diberikan kepada wali kelas, pada saat itu air mataku tak tertahan lagi dan akhirnya air mata itu jatuh tanpa bisa dikendalikan. Aku masih ingin tetap bersama guru favoritku namun memang tak mungkin karena aku harus melanjutkan pendidikanku ke SMA. Saat beliau memelukku, itu adalah pelukan terakhir yang diberikan ibu Aah padaku. Hatiku sangat sedih karena harus berpisah dengan seseorang yang sangat baik dan perhatian kepadaku. Air mataku kini semakin deras dan aku tak bisa menghentikannya.
            Semakin lama akhirnya aku bisa menerima semua kenyataan itu karena setiap pertemuan pasti ada perpisahan dan kita jangan pernah menyesali setiap pertemuan yang terjadi didalam hidup ini. Yakinlah selalu ada hal yang bahagia di suatu saat nanti. Ibu Aah memberi pesan kapadaku bahwa aku harus selalu semangat dan terus berjuang menggapai cita-citaku.
Aku tersenyum dan berkata, “Terima kasih bu untuk semua ilmu dan perhatian yang ibu berikan selama ini.”
“Iya sama-sama Ali.” Kata beliau kepadaku.
" Jangan lupakan Ali ya bu." Aku berkata dan ternyata aku meneteskan kembali air mata.
" Ibu tidak akan lupa sama kamu li. Ibu sayang sama kamu. Kamu murid ibu yang paling rajin. Udah atuh jangan nangis terus! Ibu ingin perpisahan ini menjadi perpisahan yang menyenangkan karena hari ini kalian lulus semua dan kalian bisa melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi lagi." Ucap ibu Aah sambil mengusap air mata di pipiku.
" Iya bu terima kasih." Kataku sambil tersenyum.
" Sekali lagi terima kasih ya bu." Aku memeluk ibu Aah.
" Iya li sama-sama." Jawab ibu Aah.
“ Ibu doakan semoga kamu bisa berhasil suatu saat nanti dan kamu bisa berprestasi di sekolah yang nanti akan jadi tempat kamu bersekolah.” Ucap ibu Aah.
“ Iya bu. Aminn.” Jawabku.
“ Sering-sering main ke sini ya li. Jangan malu-malu ya.” Ibu Aah berkata sambil tersenyum.
“ Insyaallah ya bu kalau Ali gak sibuk dan gak banyak pr.” Jawabku sambil tersenyum.
“ Iya li.” Kata ibu Aah.
Semuanya berakhir dengan kenangan yang tak akan bisa dilupakan begitu saja didalam hidupku. Aku pasti rindu dengan suasana yang dulu yang pernah aku alami bersama teman-teman, saat aku ikut berorganisasi, maupun saat aku bersama guru favoritku (ibu Aah). Semua kenangan itu tak akan terulang lagi. Sampai sekarang aku masih menganggap ibu Aah adalah guru terbaik saat aku sekolah di SMP.



Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini