CERPEN
Ku
Kenang Selamanya
Namaku
Ali akhir. Aku adalah seorang perempuan berusia 16 tahun. Aku tinggal di sebuah
desa yang yang tak banyak orang mengetahuinya. Desa itu bernama Desa Palagrang.
Aku masih ingat ketika aku masih duduk dibangku SMP. Ketika aku belum mengerti
segala hal tetapi disanalah aku menemukan sesuatu yang belum pernah aku temukan
sebelumnya.
Saat pertama kali aku masuk SMP, aku sangat senang. Aku
bertemu dengan orang-orang yang belum ku kenal sebelumnya dan mereka menjadi
teman baruku.
“Hai, nama kamu siapa? Berasal dari sekolah
mana?” Mereka bertanya kepadaku.
“Hai juga, namaku Ali
akhir, aku berasal dari SDN 1 Pancalagrang.” Jawabku.
Salah satu dari mereka
mengatakan bahwa tubuhku pendek sekali tetapi lucu dan imut. Aku hanya tersenyum
menanggapi perkataan mereka.
Hari itu adalah hari senin, dimana semua siswa wajib
mengikuti kegiatan upacara bendera. Aku baris dibarisan paling depan dan aku
mengikuti jalannya upacara bendera. Setelah selesai kegiatan upacara bendera,
ada acara perkenalan guru-guru yang ada di sekolahku.
Pada saat itu, guru-guru maju ke depan untuk
memperkenalkan dirinya. Dari semua guru tersebut, aku terpikat pada satu guru
yang selalu memberikan senyumannya padaku, dari awal kegiatan sampai acara
perkenalan itu berakhir. Guru tersebut bernama Ibu Aah. Beliau adalah guru ips.
Saat kami bertemu, Ibu Aah bertanya padaku.
“ Siapa namamu nak?”
Tanya Ibu Aah.
“ Namaku Ali akhir bu.”
Jawabku padanya.
Saat
pembelajaran pertama kali dimulai guru yang masuk ke kelasku adalah Ibu Aah.
Beliau menjelaskan pada kami sangat jelas hingga kami mudah menyerap pelajaran
yang diajarkan olehnya. Lama-kelamaan aku menyukai pelajarannya. Saat ada
pelajaran ips, aku belajar dengan sungguh-sungguh sebelumnya sehingga aku bisa
menjawab semua pertanyaan yang beliau tanyakan pada kami dan karena itu Ibu Aah
sering memanggilku untuk menjawab pertanyaannya. Aku juga selalu menjadi siswa
yang suka merangkum materi yang akan diajarkan oleh Ibu Aah sehingga aku selalu
mendapat nilai lebih besar dibandingkan nilai teman-teman yang lain.
Seiring berjalannya waktu, aku dan Ibu Aah semakin dekat
dan akhirnya beliau menjadi guru favoritku disekolah. Saat pelajaran kosong
atau jam istirahat, aku lebih sering dikantor untuk membantu beliau seperti memeriksa
hasil ulangan,memasukkan nilai siswa ke daftar nilai, dan lain-lain. Ibu Aah
juga selalu memotivasiku agar aku selalu semangat belajar dan meraih cita-cita
yang aku inginkan.
Saat mau menjelang ujian kenaikan kelas, Ibu Aah berpesan
padaku agar aku selalu semangat belajar dan bisa menjadi juara kelas. Karena
motivasi dari guru favorit, aku semakin bersemangat dalam belajar dan aku
mempunyai keinginan untuk bisa jadi juara kelas agar orang tua dan guru yang
aku favoritkan bangga padaku.
Ujian kenaikan kelas pun telah tiba. Aku mendapat tempat
duduk dibarisan ketiga dan teman sebangkuku adalah siswa kelas III. Kakak itu
bernama kak Krisna, dia sangat baik dan selalu tersenyum sehingga aku tidak
merasa canggung ketika bertemu dengannya saat ulangan. Sejak saat itu, kak
Krisna sering menyapaku ketika berpapasan dimana saja.
Hari demi hariku lewati dan kini ujian tersebut telah
berakhir, sekarang aku hanya menunggu hasilnya. Sebenarnya aku sudah merasa
lega karena ujian itu sudah berakhir, namun entah mengapa aku merasa gelisah,
aku takut nanti hasilnya tidak memuaskan dan aku tidak bisa membuat bangga
orang yang ku sayang.
***
Pagi yang cerah, ku awali pagi itu dengan senyuman. Aku
berangkat ke sekolah. Sesampainya di sekolah, aku bertemu dengan Ibu Aah. Ibu
Aah menyapa dan bertanya padaku.
“ Ali.” Sapa Ibu Aah.
“ Ibu.” Membalas sapaan
Ibu Aah sambil tersenyum.
“ Bagaimana ulangannya
li? Susah atau mudah soalnya?” Tanya Ibu Aah padaku.
‘ Alhamdulillah soalnya
bisa aku jawab semua, tapi aku takut salah isinya bu.” Jawabku
“ Ibu yakin jawaban
kamu banyak yang benernya. Berdoa aja semoga nilai kamu bisa menjadi nilai yang
tertinggi sehingga kamu bisa jadi juara kelas dan juara umum di sekolah ini.”
Jawab Ibu Aah sambil meyakinkanku.
“ Iya bu, aminn. Terima
kasih ya bu.” Kataku pada Ibu Aah.
“ Iya li sama-sama.
Semangat terus ya.” Kata Ibu Aah sambil tersenyum padaku.
“ Iya bu, pasti
semangat.” Jawabku sambil membalas senyumannya.
Beberapa hari sebelum pembagian rapot, ada salah satu
temanku yang bernama Hartati. Dia mengatakan selamat padaku.
“ Selamat ya li.” Kata
Hartati.
“ Selamat untuk apa?”
Tanyaku.
“ Nanti juga kamu tahu
li.” Jawabnya.
“ Selamat untuk apa
Hartati? Tolong beri tahu aku!” Pintaku.
“ Aku mau pergi dulu ya
li. Sampai jumpa.” Kata Hartati sambil pergi meninggalkanku.
Aku merasa penasaran
tetapi Hartati tidak memberi tahu mengapa dia mengucapkan selamat padaku dan
dia pergi begitu saja meninggalkanku.
Hari menegangkan pun telah tiba, dimana pada hari itu aku
akan tahu hasil belajarku selama dua semester di sekolah ini. Sebelum berangkat
ke sekolah, aku meminta doa kepada orang tuaku. Semoga hasil yang akan ku
terima itu memuaskan dan dapat membuat bangga orang yang ku sayang.
“ Bu, doakan Ali ya
semoga nilai dirapot Ali semuanya besar dan Ali bisa jadi juara kelas dan juara
umum di sekolah.” Kataku pada ibu sambil memegang tangan ibuku.
“ Iya, nak. Ibu doakan
nilai rapot kamu semuanya bagus dan bisa menjadi juara di sekolahmu.” Jawab ibu
sambil mengusap pundakku.
“ Aminn. Terima kasih
bu. Ali berangkat dulu ya bu.” Kataku sambil mencium tangan ibuku.
“ Iya, nak. Hati-hati
ya.” Kata ibuku.
Sesampainya di sekolah, aku duduk dikursiku yang terletak
dibarisan paling depan. Saat aku sudah duduk dikursiku, hati ini mulai tak
tenang. Aku selalu berfikiran bagaimana kalu nilaiku jelek dan tidak bisa
membuat bangga orang yang ku sayang. Akhh tidak.
“ Aku yakin, aku pasti
bisa membanggakan orang yang ku sayang.” Kataku dalam hati.
Pembagian rapot pun dimulai. Wali kelasku yang bernama
Bapak Andri, masuk ke kelas dan diikuti oleh dua orang siswa yang membawa
rapot. Jantungku semakin berdegup kencang namun aku bersikap tenang agar orang
lain mengira aku baik-baik saja. Setelah itu Bapak Andri mengeluarkan selembar
kertas lalu mengumumkan siapa saja yang masuk juara 10 besar.
Saat Bapak Andri mau menyebutkan siapa yang menjadi juara
1, jantungku semakin berdegup lebih kencang dari sebelumnya dan akhirnya namaku
terpanggil sebagai juara kelas. Aku pun disuruh maju ke depan kelas.
“ Silahkan Ali maju ke
depan kelas.” Kata Bapak Andri.
“Iya, Pak.” Jawabku.
Tak ku sangka ternyata
aku juga menjadi juara umum di sekolah.
“ Ini Ali hadiah
untukmu sebagai Juara Kelas dan Juara Umum. Selamat ya.” Ucap Bapak Andri
sambil memberikan hadiah padaku.
“ Iya, terima kasih ya
Pak.” Jawabku.
Aku sangat bahagia
karena apa yang aku inginkan semuanya tercapai dan aku bisa membanggakan orang
yang ku sayang.
“ Silahkan kembali ke
tempat dudukmu.” Kata Bapak Andri.
“ Baik Pak.” Jawabku.
“ Selamat ya li.” Kata
teman-teman sekelasku.
“ Iya, terima kasih
teman-teman.” Kataku pada mereka.
Setelah selesai pembagian rapot, aku keluar kelas dan
bertemu dengan Ibu Aah.
“ Ibu.” Kataku sambil
tersenyum.
“ Ali. Selamat ya kamu
bisa jadi Juara 1 dan Juara Umum juga.” Kata Ibu Aah sambil memberikan
senyumannya.
“ Iya bu. Alhamdulillah
aku bisa menggapai apa yang aku inginkan.” Jawabku sambil membalas senyumannya.
“ Ibu bangga padamu
li.” Kata Ibu Aah padaku.
“ Terima kasih bu.”
Kataku.
“ Ya sudah, ibu pergi
dulu ya. Ibu masih ada urusan. Sekali lagi selamat ya li.” Kata Ibu Aah sambil
pergi meninggalkanku.
‘ Iya, bu.” Jawabku.
Aku pulang ke rumah. Sesampainya di rumah, aku segera
menunjukkan nilai rapotku pada ibuku.
“ Ibu, coba lihat
laporku! Nilainya sangat memuaskan bu.” Kataku sambil menunjukkan rapotku.
“ Oh iya nak, nilaimu
bagus sekali.” Kata ibu.
“ Selain itu, aku juga
jadi Juara1 dan Juara Umum juga loh bu.” Kataku.
“ Kamu hebat nak, ibu
senang mendengarnya.” Kata ibuku sambil tersenyum.
***
Aku
naik ke kelas 8 atau kelas 2 SMP
Hari demi hari telah
berlalu. Hari ini adalah hari dimana aku memulai pelajaran di semester yang
baru. Aku berangkat dari rumah dengan penuh semangat.
“ Ibu.” Aku memanggil
ibu.
“ Iya, nak.” Jawab
ibuku.
“ Aku mau berangkat
sekolah dulu ya bu.” Kataku pada ibu sambil mencium tangannya.
“ Hati-hati ya nak.”
Kata ibuku.
“ Iya, bu.” Jawabku
sambil pergi meninggalkan ibu.
Sesampainya di sekolah, aku bertemu dengan teman-teman.
Mereka seperti sedang membicarakan sesuatu.
“ Hai teman-teman.”
Sapaku.
“ Hai juga li.” Kata
mereka membalas sapaanku.
“ Bagaimana nilai lapor
kalian?” Tanyaku pada mereka.
“ Cukup baik.” Kata
salah satu temanku yang bernama Intan.
“ Alhamdulillah nilai
rapotku bagus semua.” Kata salah satu temanku juga yang bernama Yani.
“ Oh iya, selamat ya
li. Cieee jadi juara 1 dan juara umum pula.” Kata mereka padaku.
“ Iya, terima kasih.”
Jawabku sambil tersenyum.
“ Ya sudah, aku ke
kelas dulu ya teman-teman.” Kataku pada mereka sambil melambaikan tangan.
" Iya, nur." Kata
mereka sambil melambaikan tangan.
Awal
yang baru di kls 2 SMP, aku merasa baik-baik saja. Ku jalani hidup sesuai
jalannya. Aku semakin semangat bersekolah dan aku ingin mencapai prestasi yang
membanggakan. Aku lebih dekat dengan teman-teman mungkin karena kami sudah
mengenal satu sama lain selama satu tahun.
Di kelas 2 SMP ini aku mengikuti dua organisasi yaitu
OSIS dan Pramuka. Aku terpilih menjadi salah satu anggota OSIS saat kelas 1 SMP
tetapi tugas yang kuterima tidak terlalu berat seperti saat aku menjabat di
kelas 2 SMP. Di kelas 2 SMP aku menjabat sebagai Sekretaris OSIS tugasku adalah
mengurus masuk dan keluarnya surat di sekolah. Tugasku ini cukup berat karena
terkadang hampir setiap hari ada surat yang masuk dan surat yang keluar di
sekolah tetapi aku sangat senang bisa mengikuti organisasi OSIS di sekolah
karena dengan begitu aku memiliki pengalaman yang tak akan ku dapatkan saat aku
tidak bersekolah lagi.
Aku juga mengikuti organisasi Pramuka di sekolah.
Jabatanku ini lebih berat dibandingkan dengan menjabat sebagai Sekretaris OSIS.
Mengapa aku bilang lebih berat? Karena aku menjabat sebagai Ketua Pramuka.
Cukup hebat bukan saat kita mendengar orang yang menjabat sebagai Ketua Pramuka?
Awalnya sih, aku juga menganggap orang yang menduduki jabatan sebagai Ketua di
organisasi apapun itu hebat namun saat aku yang menduduki jabatan tersebut
ternyata biasa saja. Mengapa aku bilang biasa saja? Karena aku sudah
terbiasa.... Hehehe...
Saat
menduduki jabatan sebagai Ketua Pramuka, aku dituntut lebih bertanggung jawab
karena suatu organisasi dapat berjalan dengan baik salah satu faktornya adalah seorang
pemimpin. Mengapa aku bilang seperti itu? Karena apabila pemimpinnya baik maka
organisasi itu bisa berjalan dengan baik dan begitu juga sebaliknya. Jadi
seorang Ketua Pramuka juga harus tegas. Mengapa? Yaitu agar anggota atau
bawahan kita bisa disiplin dan patuh atas perintah kita.
Jangan malu dan takut menjadi seseorang yang ikut
organisasi dan menduduki jabatan yang
berat dalam organisasi tersebut karena jabatan, guru-guru lebih mengenalku dan
akhirnya aku bisa dekat dengan Pembina Pramuka yaitu Bapak Andri wali kelasku
saat aku masih kelas 1 SMP. Memang ada senang dan tidak senangnya saat kita
menjalankan jabatan tersebut tetapi kita
harus menjalankan semua itu dengan sabar dan ikhlas.
Aku
dapat memetik pelajaran dari semua jabatan yang aku miliki saat itu yaitu saat
kita menjadi seorang pemimpin atau seorang yang dipimpin jalankanlah tugas dengan baik dan penuh tanggung jawab dan satu
lagi suka atau tidaknya dengan jabatan yang kita miliki tergantung sikap kita
dalam menjalakan semuanya. Banyak orang yang awalnya tidak suka tapi pada
akhirnya mereka menyukai jabatan atau organisasi tersebut.
***
Hari untuk menguji kemampuan pembelajaran di sekolah pun
telah tiba. Aku mempersiapkan semuanya dengan matang agar hasil yang aku
peroleh baik dan memuaskan. Aku berangkat dari rumah pukul 06.30. Aku
berpamitan pada orang tuaku.
“ Ibu, Ali mau
berangkat sekolah. Do’akan Ali ya bu semoga hasilnya bisa memuaskan dan bisa
membanggakan ibu lagi.” Pintaku pada Ibu.
“ Iya nak, ibu selalu
mendoakanmu.” Kata ibuku sambil memelukku.
“ Terima kasih bu.” Aku
mengecup tangan ibuku.
“ Hati-hati ya nak.”
Ucap Ibuku.
“ Iya bu.” Jawabku.
Sesampainya di sekolah aku segera menuju ruang kelas yang
sudah dipersiapkan untuk ulangan. Ruang ulanganku terletak di lantai atas
sebelah kiri. Pagi itu aku bertemu dengan guru favoritku.
“ Ali.” Panggil Ibu
Aah.
“ Iya bu, ada apa?” Aku
bertanya sambil tersenyum.
“ Ibu yakin ulangan
kali ini kamu bisa mendapat Juara Kelas dan Juara Umum lagi.” Kata Ibu Aah.
“ Amin. Semoga aku bisa
mempertahakan prestasiku. Do’akan aku juga ya bu.” Pintaku pada Ibu Aah.
“ Iya li, ibu akan
mendoakanmu.” Kata ibu Aah sambil tersenyum.
“ Aku masuk kelas dulu ya
bu. Assalamu’alaikum.” Aku salam kepada Ibu Aah lalu berpamitan.
“ Waalaikumussalam.”
Kata Ibu Aah menjawab salamku.
Aku sudah berada didalam ruang kelas. Banyak orang
yang masih belajar untuk mempersiapkan ulangan hari ini. Ulangan pun dimulai.
Aku mulai mengisi soal-soal yang ku dapat. Alhamdulillah pelajaran yang
kupelajari semuanya keluar di ulangan tadi. Aku tambah semangat untuk belajar
dan menyelasaikan ulangan sampai hari terakhir dengan nilai yang baik dan
memuaskan.
***
Ulangan pun selesai dan sekarang aku tinggal menuggu
hasilnya. Hari berganti hari dengan cepat dan sampailah pada hari sabtu dimana
hasil ulangan semester akan dibagikan dan semua siswa akan mengetahui hasil
mereka masing-masing termasuk diriku sendiri. Wali kelasku masuk lalu
membagikan rapot para siswa. Saat wali kelasku menyebutkan Juara kelas,
jantungku berdegup kencang sekali seperti saat aku kelas 1 SMP. Dan akhirnya
namaku terpanggil sebagai Juara Kelas dan Juara Umum juga.
Aku sangat senang akhirnya aku bisa mempertahankan
prestasiku dan aku bisa membanggakan orang yang ku sayang terutama ibuku. Saat
aku hendak pulang aku bertemu lagi dengan Ibu Aah.
“ Bagaimana li
hasilnya? Memuaskan?” Tanya ibu Aah.
“ Alhamdulillah bu
memuaskan sekali. Aku mendapat Juara kelas dan Juara Umum lagi.” Jawabku sambil
tersenyum.
“ Selamat ya li atas
prestasi yang dapat kamu pertahankan.” Kata Ibu Aah sambil tersenyum dan
memegang tanganku.
“ Iya bu terima kasih.”
Jawabku sambil tersenyum.
“ Aku pulang duluan ya
bu.” Kataku sambil salam pada ibu Aah.
“ iya li.” Kata ibu Aah
sambil melambaikan tangan.
Aku pulang ke rumah dan segera memberi tahu ibu tentang
hasil belajarku di kelas 2 SMP ini, tak lupa juga aku akan memberi tahu ibu
bahwa aku mendapat Juara Kelas dan Juara Umum lagi. Ibuku sangat bahagia
mendengar berita yang aku bawa. Ibu memelukku lalu memberikan hadiah kepadaku
karena aku berhasil mempertahankan prestasiku. Aku bahagia sekali hari itu.
***
Hari
demi hari terus berganti. Tak terasa aku sudah kelas 3 SMP. Aku tak menyangka
wali kelasku adalah guru favoritku yaitu ibu Aah. Aku sangat senang dan semakin
bersemangat dalam belajar untuk meraih cita-cita. Karena Ibu Aah menjadi wali
kelasku, hubunganku dengan guru favoritku
itu menjadi lebih dekat lagi. Aku merasa beliau seperti orang tuaku.
Beliau sangat perhatian padaku. Oleh sebab itu, jika aku merasakan sesuatu yang
mengganjal dihati, aku menceritakan semuanya kepadanya.
Pembelajaran pun dimulai dan tepat pada awal pembelajaran,
diawali dengan pelajaran ips (guru yang aku favoritkan). Saat masuk ke kelas,
guru favoritku memberikan senyuman padaku lalu menyapaku.
Ibu Aah bertanya, “Apa
kabar Ali? Bagaimana keadaanmu?”
“Alhamdulillah bu, aku
baik-baik saja.” Kataku kepadanya.
“ Liburan kemana li
selama dua minggu kemarin?” Tanya ibu Aah kepadaku.
“ Di rumah saja bu,
membantu orang tua.” Jawabku.
“ Lebih baik di rumah
membantu orang tua daripada main-main gak jelas.” Ucap ibu Aah.
“ Iya bu.” Balasku.
Sungguh
benar-benar bahagia, awal pembalajaran disapa oleh guru yang aku favoritkan. Seperti
biasa, aku sering menjawab pertanyaan yang ibu Aah tanyakan. Terlihat dari raut
wajahnya bahwa ibu Aah bahagia melihat aku lebih aktif dalam pelajarannya. Aku
pun merasa senang.
Hari demi hari ku lewatkan dengan penuh semangat, meskipun
dalam kenyataannya tidak mungkin apa yang aku lakukan selamanya berjalan sesuai
keinginanku karena pasti ada rintangan untuk menguji kita. Aku lewati semua itu
dengan sabar dan dan penuh dengan rasa semangat. Rasa sabar dan rasa semangat
itulah yang bisa mengalahkan semua rintangan yang aku hadapi. Aku bersyukur
bisa bertemu dengan seseorang yang bisa membuatku menjadi lebih baik dan selalu
memotivasiku agar aku lebih semangat untuk menggapai apa yang ku inginkan.
***
Waktu
telah berlalu dengan begitu cepat hingga sampai pada hari dimana aku harus
berpisah dengan guru favoritku. Hari itu
penuh dengan rasa yang tak pasti (rasa senang dan rasa duka).
“Apakah aku harus
bahagia atau bersedih?” Aku bertanya-tanya dalam hati.
Saat
acara perpisahan dimulai, hatiku semakin tak karuan namun aku tetap tersenyum
untuk menutupi semua kesedihan yang aku alami. Ketika memberi sebuah kenangan
terakhir yang akan diberikan kepada wali kelas, pada saat itu air mataku tak
tertahan lagi dan akhirnya air mata itu jatuh tanpa bisa dikendalikan. Aku
masih ingin tetap bersama guru favoritku namun memang tak mungkin karena aku
harus melanjutkan pendidikanku ke SMA. Saat beliau memelukku, itu adalah
pelukan terakhir yang diberikan ibu Aah padaku. Hatiku sangat sedih karena harus
berpisah dengan seseorang yang sangat baik dan perhatian kepadaku. Air mataku
kini semakin deras dan aku tak bisa menghentikannya.
Semakin lama akhirnya aku bisa menerima semua kenyataan
itu karena setiap pertemuan pasti ada perpisahan dan kita jangan pernah
menyesali setiap pertemuan yang terjadi didalam hidup ini. Yakinlah selalu ada
hal yang bahagia di suatu saat nanti. Ibu Aah memberi pesan kapadaku bahwa aku
harus selalu semangat dan terus berjuang menggapai cita-citaku.
Aku tersenyum dan
berkata, “Terima kasih bu untuk semua ilmu dan perhatian yang ibu berikan
selama ini.”
“Iya sama-sama Ali.”
Kata beliau kepadaku.
" Jangan lupakan
Ali ya bu." Aku berkata dan ternyata aku meneteskan kembali air mata.
" Ibu tidak akan
lupa sama kamu li. Ibu sayang sama kamu. Kamu murid ibu yang paling rajin. Udah
atuh jangan nangis terus! Ibu ingin perpisahan ini menjadi perpisahan yang
menyenangkan karena hari ini kalian lulus semua dan kalian bisa melanjutkan
pendidikan yang lebih tinggi lagi." Ucap ibu Aah sambil mengusap air mata
di pipiku.
" Iya bu terima
kasih." Kataku sambil tersenyum.
" Sekali lagi
terima kasih ya bu." Aku memeluk ibu Aah.
" Iya li
sama-sama." Jawab ibu Aah.
“ Ibu doakan semoga
kamu bisa berhasil suatu saat nanti dan kamu bisa berprestasi di sekolah yang
nanti akan jadi tempat kamu bersekolah.” Ucap ibu Aah.
“ Iya bu. Aminn.”
Jawabku.
“ Sering-sering main ke
sini ya li. Jangan malu-malu ya.” Ibu Aah berkata sambil tersenyum.
“ Insyaallah ya bu
kalau Ali gak sibuk dan gak banyak pr.” Jawabku sambil tersenyum.
“ Iya li.” Kata ibu
Aah.
Semuanya
berakhir dengan kenangan yang tak akan bisa dilupakan begitu saja didalam
hidupku. Aku pasti rindu dengan suasana yang dulu yang pernah aku alami bersama
teman-teman, saat aku ikut berorganisasi, maupun saat aku bersama guru
favoritku (ibu Aah). Semua kenangan itu tak akan terulang lagi. Sampai sekarang
aku masih menganggap ibu Aah adalah guru terbaik saat aku sekolah di SMP.
Bagus Li, Lanjutkan
BalasHapusWahh Keren👍🏻
BalasHapusDilihat dari maknanya, mengandandung makna yang dapat menjadi motivasi belajar
BalasHapusSi ali? Keren Keren👍
BalasHapusWah kerenn...
BalasHapusMenarik si ceritanya... goodlah👍
BalasHapusMenghayati banget😉 lanjutkan💪
BalasHapusBagus nur
BalasHapusKeren!!
BalasHapusKeren!!
BalasHapusKerenn nur👍👍
BalasHapusKerenn nur👍👍
BalasHapusSukakkkk
BalasHapus