Novel
RUMAH
ANGKER
Karya : Nur Akhiralimi
BAB
1
TINGGAL
DI RUMAH BARU
Rumah
merupakan salah satu tempat yang sering dihuni makhluk-makhluk astral. Biasanya
rumah yang sudah lama ditinggalkan lama oleh pemiliknya dan pernah terjadi sesuatu
yang tak diinginkan merupakan sebab rumah itu berhantu dan akhirnya tak
berpenghuni. Dendam yang belum terbalaskan karena ada sesuatu hal yang belum
terselesaikan di dunia juga merupakan
sebab arwah masih bergentayangan di rumah tersebut.
Namaku
Cinta. Aku berumur 10 tahun dan sekarang aku duduk dikelas 4 SD. Ayahku adalah
seorang dokter dan ibuku adalah seorang guru. Ayahku baru saja membeli rumah
baru dekat sekolahku. Rumah ini dijual dengan harga yang sangat murah. Aku
tidak tahu pasti mengapa rumah ini dijual dengan harga yang sangat murah
padahal rumahnya sangat besar namun memang terlihat sudah tua.Kejadian-kejadian
aneh mulai muncul ketika aku dan keluargaku menempati rumah tersebut.
***
Setelah
sampai di rumah itu, aku segera membereskan barang-barang yang ku bawa dari
rumah yang dulu. Aku masuk ke rumah itu dan menyimpannya dengan hati-hati. Ibu
memberitahuku agar aku membereskan peralatanku ke kamar yang sudah di sediakan.
Disana terdapat 3 kamar yang berderet rapih dan kamarku terletak di ujung dari
ketiga kamar tersebut. Saat pertama kali aku melihat kamar tersebut. Aku
terkejut karena kamar tersebut sangat rapih dan indah, disana banyak
gambar-gambar lukisan tentang pemandangan alam.
Aku
segera membereskan peralatan yang ku bawa misalnya; pakaian, buku pelajaran,
alat-alat sekolah, dan tak lupa juga aku membawa makanan yang sering ku taruh
di kamar, agar saat aku lapar aku dapat memakan makanan tersebut tanpa harus ke
dapur. Begitulah aku yang sebenarnya. Aku yang tak dapat merawat kamarku
sendiri sehingga pada saat ibu mengecek kamarku banyak sekali sampah bekas
makanan yang sudah ku makan kemarin malam dan akhirnya aku dimarahi oleh
ibukku.
***
Hari
ini hari minggu dimana hari pertamaku tinggal di rumah baru. Suasana rumah ini
sangat berbeda dengan rumahku yang dulu. Aku merasakan ada sesuatu yang aneh di
rumah ini. Saat ini hanya ada aku dan ibuku, ayahku sudah berangkat ke rumah
sakit lebih pagi dari biasanya karena kata ayahku hari ini ada pasien yang
harus segera dioperasi, jika telat sedikit saja nyawanya tidak bisa tertolong.
Itulah pekerjaan ayahku yang selalu siap untuk menolong orang lain. Aku kagum
padanya.
“ Cinta,,, cinta” ibu
memanggilku.
“ Iya bu, ada apa? “ aku bertanya pada ibu.
“ Ibu mau keluar
sebentar, kamu hati- hati ya di rumah” kata ibu kepadaku.
“ Iya bu” kataku pada ibu.
“ Ya sudah ibu pergi dulu ya” Ibu berkata
sambil menutup pintu.
Sekarang hanya ada aku di rumah. Kalian pasti tahu
perasaanku sekarang, ditinggal di rumah baru sendirian, menyebalkan bukan?. Maka
langkah yang aku ambil adalah segera mengunci pintu rumah lalu menuju kamarku.
Setelah beberapa menit kemudian terdengar suara ketukan pintu.
Aku bertanya- tanya “ Ko
ibu cepat sih pulangnya biasanya juga kalau ibu keluar rumah bisa sampai
berjam- jam, oh mungkin saja ibu ingin istirahat di rumah.”
Aku segera bergegas keluar kamar untuk
membukakan pintu untuk ibu. Lalu pada saat aku membuka pintunya, ternyata tidak
ada siapa- siapa diluar. Aku bingung lalu segera menutup pintunya kembali dan
menguncinya.
Aku segera kembali
ke kamarku. Aku masih heran siapa yang mengetuk pintu rumahku. Aku terdiam
memikirkan kejadian aneh yang aku alami.
“Ah sudahlah aku bosan
memikirkan semua ini, lebih baik aku tidur saja agar aku tak memikirkan hal itu
terus.” Kataku sambil menarik selimut.
Aku tertidur sangat lelap tetapi tiba- tiba
aku merasa ada yang membangunkanku. Aku mencoba untuk tetap tidur namun yang
membangunkanku memaksa agar aku bangun dan akhirnya aku terbangun dari tidurku
dan ternyata ibu yang membangunkanku.
“ Kapan ibu pulang? “
aku bertanya pada ibu.
“ Sekitar pukul 11.00
WIB” jawab ibukku.
“ Maaf ya bu, aku
ketiduran dan tidak membukakan pintu untuk ibu” kataku.
“ Ya, tidak apa-apa nak kan ibu juga bawa
kunci rumah cadangan, maafkan ibu juga ya nak sudah membangunkanmu.” Kata ibu
sambil mengusap kepalaku.
“ iya bu tidak apa- apa” kataku.
BAB
2
MAKAN
MALAM
“ Cinta. Ayo
makan malam!” teriak ibu padakku.
“ Iya bu sebentar lagi aku ke bawah.” Ucapku.
Sesampai
di ruang makan, aku tidak melihat ibu. “tok… tok… tok…” terdengar suara ketukan
pintu.
“ Iya sebentar.” Aku berteriak sambil bergegas
menuju pintu lalu membuka pintu tersebut.
“ Assalamu’alaikum wr.wb.” ibu mengucapkan salam.
“ Waalaikum salam.” Jawabku (merasa heran).
“ Ada apa denganmu nak?” Tanya ibu kepadaku.
“ Ini benar ibu?” Aku kembali bertanya pada ibu.
“ Iya ini ibu. Ada apa nak?” Ibu bertanya lagi.
“ Tadi aku lihat ibu sudah pulang lalu
membangunkanku dan mengajakku makan bersama.” Kataku.
“ Tidak nak. Ibu baru pulang ke rumah dan ibu juga
tidak membawa kunci rumah.” Ujar ibu.
“ Lalu siapa yang tadi berbicara denganku?” Aku
bertanya sambil merasa keheranan.
“ Sudah-sudah jangan dipikirkan lagi, mungkin kamu
cuma halusinasi aja karena kamu lapar. Ayo kita makan!” ucap ibuku.
Aku
dan ibuku makan malam bersama tanpa ayah disisi kami. Setelah selesai makan,
aku menceritakan semua kejadian aneh yang ku alami hari ini tapi ibu tidak
percaya padaku. Ibu selalu berfikir bahwa aku berhalusinasi karena aku masih
kecil dan ibu berkata aku harus banyak istirahat.
“ Ibu mau istirahat dulu ya nak. Jika kamu ingin
pergi main ke rumah teman-temanmu pergi saja tapi jangan terlalu malam ya
pulangnya.” Kata ibuku.
“ Ya sudah bu aku pergi main dulu ya.” Kataku kepada
ibu.
“ Jangan lupa tutup pintunya.” Kata ibu.
“ Ya, bu.” Ujarku sambil keluar dan menutup pintu.
***
Sekarang pukul 21.00. Aku sedang belajar di dalam kamar.
Ibu sedang istirahat dikamarnya. Ayah belum pulang dari rumah sakit tetapi di
ruang tamu terdengar sangat berisik seperti ada yang sedang bermain. Aku
memberanikan diri keluar dari kamar untuk melihat apa yang sedang terjadi di
ruang tamu. Saat aku sampai di ruang tamu, ternyata tidak ada apa-apa, semua
normal dan tidak ada yang aneh.
Saat
aku akan kembali ke kamar lagi tiba-tiba ada yang memanggilku.
“ Cinta, main yuk sama kakak!” panggil seseorang.
“ Siapa yang memanggilku?” (aku terdiam dan merasa
kebingungan).
Aku
membalikkan badan dan ternyata tidak ada siapa-siapa disana. Tiba-tiba dari
arah belakang terdengar suara.
“ Cinta, sedang apa kamu disini?” Tanya ibu padaku.
“ Tadi Cinta dengar suara dengar suara aneh bu
dibawah, seperti ada yang sedang bermain.” Kataku pada ibu.
“ Tidak ada apa-apa ko disini, mungkin kamu
halusinasi lagi.” Kata ibu.
“ Ibu, aku ini tidak sedang berhalusinasi dan aku
juga tidak berbohong.” Kataku (sedikit merasa kesal).
“ Iya, iya terserah kamu saja.” Ucap ibuku.
BAB
3
TUJUH
HARI
Hari berlalu dengan cepat. Hari ini adalah hari ketujuh
aku tinggal di rumah ini. Aku semakin yakin rumah ini ada penunggunya, tapi aku
tidak pernah takut karena aku yakin sebenarnya arwah itu juga ingin kembali ke
alamnya namun mungkin ada sesuatu yang belum terselesaikan di dunia ini atau
mungkin arwah itu masih memiliki dendam yang belum terbalaskan. Maka dari itu,
aku harus mencari tahu dan barangkali aku bisa membantunya agar ia bisa tenang
dan pergi dari dunia ini.
Ayah
memanggilku dan aku tersadar dari lamunanku.
“ Cinta.” Panggil ayah.
“ Iya ayah, ada apa?”
Tanyaku pada ayah.
“ Bagaimana dengan
rumah ini? Kamu suka?” Ayah kembali bertanya.
“ Sebenarnya aku suka.
Rumah ini sangat besar namun memang terlihat tua tapi….” Aku berkata lalu
terdiam.
“ Tapi kenapa Cinta?”
Ayah bertanya kembali.
“ Cinta merasakan ada
sesuatu yang aneh di rumah ini.” Jawabku.
“ Aneh bagaimana
maksudmu?” Tanya ayah.
“ Pertama, saat ayah
pergi bekerja lebih pagi, ibu juga pergi. Lalu hanya ada aku dirumah. Setelah
beberapa menit ibu pergi, ada suara ketukan pintu tapi saat aku membuka pintu,
ayah tau siapa yang mengetuk pintu rumah kita?” Aku bercerita sambil memberikan
pertanyaan pada ayah.
“ Ibu?” Ayah mencoba
menjawab.
“ Bukan ayah. Tidak ada
siapa-siapa disana.” Jawabku.
“ Mungkin orang iseng
yang lewat depan rumah kita.” Kata ayahku.
“ Rumah kita kan jauh
dari jalan ayah.” Aku menjelaskan pada ayah.
“ Ya mungkin saja nak.
Kamu jangan berfikiran negatif dulu.” Ayah mencoba menenangkanku.
“ Kedua, pada saat aku
tertidur, ibu membangunkanku lalu mengajakku makan malam. Tapi setelah aku
sampai di ruang makan, aku tidak melihat ibu disana. Tiba-tiba ada suara
ketukan pintu lagi. Setelah aku membuka pintunya ternyata itu Ibu. Aneh bukan?”
Aku menjelaskan lagi sambil bertanya pada ayah.
“ Iya aneh nak. Tapi
barangkali saja kamu sedang bermimpi dan membayangkan ibu sudah di rumah.” Kata
ayahku.
“ Tidak, ayah. Aku
masih normal, saat itu aku sedang sadar dan itu memang ibu tapi entah mengapa
ibu menghilang dan ternyata ibu baru pulang padahal ibu yang mengajakku makan
malam.” Aku menjelaskan kembali.
“ Masih ada hal aneh di
rumah ini?” Tanya ayah padaku.
“ Ada. Ketiga, saat aku
dikamar, ibu juga sedang beristirahat dikamarnya dan ayah belum pulang. Aku
mendengar suara seperti ada yang sedang bermain di ruang tamu namun saat aku
melihatnya tertanya tidak ada siapa-siapa disana, semuanya normal sepeti
biasanya..” Aku menjelaskan lagi kejadian aneh itu pada ayah.
“ Menurut ayah kamu
banyak menonton film horror atau kamu sering membaca buku yang isinya
hantu-hantu gitu makannya kamu jadi kebawa sama kejadian yan diceritakan film
atau buku tersebut.” Ayah mencoba menangkal apa yang ku jelaskan.
“Ayah tidak percaya
padaku?” Tanyaku.
“ Nak, tidak ada hantu
di rumah ini.” Ayah mencoba menjelaskan padaku.
“ Lalu siapa yang membangunkanku
dan berisik di ruang tamu? Bukan hantu?” aku bertanya pada ayah.
“ Sudah nak. Kamu
jangan terus memikirkan hal aneh itu. Anggap saja hal itu tidak pernah terjadi
di hidup kamu.” Kata ayahku.
“ Iya ayah aku akan
berusaha melupakan kejadian aneh itu.” Jawabku.
“ Ayah yakin kamu
bisa.” Kata ayah.
“ Iya ayah.” Kataku
pada ayah.
BAB
4
MASUK
SEKOLAH
Hari ini aku berangkat sekolah pada pukul 06.30. Aku
diantar oleh ayah dan ibu menggunakan mobil. Setelah sampai di sekolah aku
berpamitan pada ayah dan ibu.
“ Ayah, ibu aku
berangkat sekolah dulu ya.” Ucapku sambil mencium tangan keduanya.
“ Iya nak.” Kata ayah
dan ibuku.
Aku bergegas menuju
ruang kelasku yang berada di lantai dua. Di ruang kelas itu sudah ada
teman-temanku. Mereka bernama Citra, Ami, dan Sandy. Citra adalah temanku yang
paling sabar. Dia cantik, pintar dan memiliki kulit berwarna putih. Ayah dan
ibunya bekerja sebagai Dokter. Dia merupakan anggota PMR, ya bisa dibilang
paling rajin karena saat kami memilih untuk pulang daripada mengikuti
ekstrakulikuler yang begitu-begitu saja, dia tetap memilih untuk ikut
ekstrakulikulernya.
Ami adalah temanku juga. Dia berbeda dari Citra. Dia
adalah seorang yang pemarah. Maka dari itu kami harus berhati-hati dalam
berkata agar tidak menyebabkan dia marah. Ami juga cantik, pintar, dan memiliki
kulit berwarna putih. Ayahnya adalah manager perusahaan dan ibunya adalah
seorang desainer di salah satu butik
miliknya. Dia menjabat sebagai wakil ketua di ekstrakulikuler pencak silat. Dia
sama malasnya dengan aku dan Sandy.
Sandy juga adalah temanku. Kata orang-orang sih dia mirip
artis Korea yaitu Chanyeol. Sampai-sampai banyak kakak kelas yang ngejar-ngejar
dia. Pasti kalau kalian bertemu dengannya, kalian bisa jatuh hati lagi. Hehehe…
gk juga sih, buktinya aku tak suka padanya. Ayahnya berasal dari Jepang
sedangkan ibunya asli orang Indonesia. Ayahnya dan ibunya bekerja di luar
negeri. Dia tinggal disini bersama neneknya. Dia merupakan siswa berprestasi di
sekolah, dia pernah mendapat Juara 2 Olimpiade Sains Nasional Matematika
tingkat Kota. Keren bukan?. Sudah putih, ganteng, mirip korea, pinter lagi.
Bagaimana tidak banyak yang suka? Pasti kalian juga pengen punya do’i kaya
Sandy kan? Iya aja deh biar cepet. Hehehe…
***
Aku duduk di sebelah Ami lalu aku mulai menceritakan
kejadian aneh di rumah baru itu. Mereka semua sangat serius mendengarkan
ceritaku. Setelah selesai bercerita Ami bertanya.
“ Apakah kamu sudah
menceritakan hal ini pada orang tuamu, Cin?” Tanya Ami padaku.
“ Iya sudah, namun ayah
dan ibuku menganggap aku sedang berhalusinasi atau aku sedang bermimpi.”
Jawabku.
“ Oh seperti itu.” Ucap
Citra.
“ Bagaimana kalau nanti
pulang sekolah kita semua pergi ke rumah Cinta?” Tanya Sandy.
“ Setuju.” Kata Citra
dan Ami.
Bel pulang pun berbunyi “ Kring.. kring…
kring..”. Kami berempat segera bergegas ke rumahku. Sesampainya di rumahku,
kami mendengar suara tangisan seorang perempuan.
“ Suara apa itu?” Tanya
Ami.
“ Ko seperti orang
menangis ya.” Jawab Citra.
“ Apa ada orang di
rumah?” Tanya Sandy padaku.
“ Setahuku tidak ada,
ibu dan ayah pergi bekerja.” Kataku pada mereka.
“ Apa kamu punya
pembantu di rumah ini?” Tanya Sandi lagi.
“ Tidak punya.” Jawabku
lagi.
Kami semua terdiam lalu tangisan itu pun berhenti.
“ Suara tangisannya
sudah berhenti.” Kata Citra.
“ Iya benar.” Kata Ami.
“ Ya sudah, ayo kita
semua masuk ke dalam rumah.” Ajakku pada mereka.
“ ayo.” Jawab mereka
bertiga.
Kami semua masuk ke dalam rumah. Disana tidak terjadi
apa-apa semuanya normal. Kami tidak menemukan apapun dan kami juga tidak
mendengar suara tangisan itu lagi. Setelah beberapa jam di rumahku mereka semua
memutuskan untuk pulang dan aku harus sendiri lagi di rumah ini.
“ Aku pulang dulu ya
Cin.” Ucap Ami.
“ Aku juga.” Ucap Citra
dan Sandy.
“ Iya. Terima kasih ya
teman-teman sudah mau berkunjung ke rumahku.” Ucapku.
“ Iya sama-sama Cinta.”
Kata mereka sambil melambaikan tangan.
BAB
5
CERITA
MASA LALU
Keesokan harinya aku berangkat sekolah. Sesampainya di
sekolah aku bertemu dengan penjaga sekolahku. Lalu penjaga sekolah itu bertanya
padaku.
“ Kamu tinggal di rumah
itu?” Tanya penjaga sekolah sambil menunjuk ke arah rumahku.
“ Iya Pak, itu
rumahku.” Jawabku.
“ Sejak kapan kamu
tinggal di rumah itu?” Tanya bapak penjaga sekolah.
“ Sudah seminggu lebih
saya tinggal di rumah itu.” Kataku padanya.
“ Memangnya kamu tidak
mengalami kejadian-kejadian aneh di rumah itu?” Bapak penjaga sekolah bertanya
lagi.
“ Saya sering mengalami
kejadian-kejadian aneh di rumah itu.” Ucapku.
“ Apakah bapak tahu
sesuatu tentang rumah itu?” Aku bertanya padanya.
“ Iya saya tahu.” Jawab
penjaga sekolah itu.
“ Ayo pak ceritakan
padaku tentang rumah itu.” Aku sedikit memaksa.
“ Begini ceritanya…..”
Bapak penjaga sekolah mulai bercerita.
Dahulu di rumah itu ada sebuah keluarga yang sangat
bahagia. Keluarga itu terdiri dari ayah, ibu, dan dua orang anak perempuan yang
bernama Caca dan Cici. Mereka adalah anak kembar namun sikapnya sangat berbeda.
Caca mempunyai sikap yang tidak baik yaitu egois, mudah marah, iri hati, dan
serakah. Sedangkan Cici mempunyai sikap yang baik yaitu sopan, baik hati,
sabar, dan tidak sombong.
Pada suatu hari Caca dan Cici berulang tahun. Awalnya
mereka sangat bahagia namun tak disangka-disangka kebhagiaan itu akan berubah
menjadi kesedihan. Pada saat pemberian hadiah ulang tahun, Caca diberi hadiah
mobil dari kedua orang tuanya sedangkan Cici diberi hadiah tas mahal yang
sangat bagus. Karena sifat iri dan serakahnya, Caca tidak puas dengan mobil
yang diberikan sebagai hadiahnya. Dia juga ingin tas yang di miliki oleh Cici.
Akhirnya Caca mencari cara agar tas yang di miliki oleh
Cici bisa menjadi miliknya. Terpikir olehnya untuk membunuh Cici (saudara
kembarnya sendiri). Caca masuk ke kamar Cici.
“ Ci, bantu kakak yuk.”
Ajak Caca.
“ Bantu apa kak?” Tanya
Cici.
“ Bantu kakak cari
berkas peenting di gudang.” Jawab Caca.
“ Berkas penting? Di
gudang?” Tanya Cici.
“ Iya, waktu itu kakak
beresin kertas-kertas yang gak kepake, mungkin berkas itu keselip. Pas kakak
cari lagi berkas pentingnya gak ketemu. Kamu mau bantu kakak kan?” Caca
menjelaskan dan bertanya.
“ Oh. Iya kak aku mau
bantu cari brkas itu.” Jawab Cici.
“ Ok Makasih ya.” Kata
Caca.
“ Iya kak.” Jawab Cici.
Caca dan Cici pun pergi ke gudang. Sesampainya di gudang
Caca segera melancarkan rencananya pada Cici. Cici yang sedang mencari berkas
itu dan membelakangi Caca, tiba-tiba di tusuk oleh pisau.
“ Arghhh… Apa yang
kakak lakukan padaku?” Cici bertanya pada Caca.
“ Kau mau tau kenapa?
Karena kau hadir di dunia ini.” Jawab Caca.
“ Apa maksudmu kak?”
Tanya Cici kembali.
“ Jika saja kau tidak
hadir di keluarga ini, aku akan mendapatkan semua apa yang aku inginkan.” Kata
Cici.
“ Bukankah hadiah ulang
tahun kemarin sudah membuktikan bahwa kakak yang lebih berhak atas harta ayah?”
Tanya Cici.
“ Aku ingin tasmu
juga.” Jawab Caca.
“ Apa? Kau melakukan
ini hanya kau ingin tas yang aku miliki?” Tanya Cici kembali.
“ Iya.” Jawab Caca.
“ Mengapa kau melakukan
ini hanya agar kau memiliki tas itu?” Tanya Cici.
“ Bukan hanya ta situ
tapi semua barang yang kau miliki.” Jawab Caca.
“ Kenapa kau tak bilang
kalau kau ingin barang-barangku? Kenapa kau tega melakukan ini padaku?” Cici
bertanya sambil menangis.
“ Karena jika kau mati
harta ayah akan menjadi milikku semua.” Kata Caca sambil tertawa.
“ Kau tega.” Kata Cici
sambil menangis dan menahan rasa sakit akibat tusukan itu.
Akhirnya
Cici pun meninggal dan jasadnya dikuburkan di halaman belakang rumah. Sungguh kejam
tindakan yang dilakukan Caca pada saudara kembarnya (Cici).
***
Hari demi hari berlalu, ayah dan ibu merasa kehilangan
Cici. Mereka bertanya pada Caca.
“ Caca.” Panggil ibu,
“ Iya bu ada apa?”
Tanya Caca.
“ Cici kemana ya ko
udah dua hari gak keliatan? Dia sakit?” Tanya ibu.
“ Setahu Caca, Cici
pergi ke rumah temannya. Katanya sih mau nginep selama bbeberapa hari.” Kata
Caca.
“ Tapi ko gak pamit ke
ibu sama ayah?” Tanya ibu lagi.
“ Mungkin dia kecewa
dengan hadiah yang diterimanya.” Jawab Caca.
“ Akh tidak mungkin,
Cici kan anak yang baik.” Jawab ibu.
“ Ya mungkin saja bu,
kan perasaan seseorang tidak ada yang tahu bu.” Kata Caca.
“ Iya juga ya Ca.” Kata
ibu.
“ Nanti kamu cari Cici
yak ke rumah temannya.” Pinta ibu.
“ Hmm.. Iya bu.” Jawab
Caca.
Caca masuk ke dalam kamar, lalu dia memikirkan bagaimana
caranya agar kematian Cici tidak diketahui oleh orang lain termasuk ibu dan ayahnya.
Akhirnya dalam kondisi yang sedang ketakutan terbesit pikiran untuk membunuh orang tuanya.
“ Aku harus membunuh
orang tuaku. Lagi pula ayah dan ibu selalu memikirkan Cici yang jelas-jelas
sudah meninggal. Dengan membunuh orang tuaku, aku dapat menguasai seluruh harta
ayah dan rumah ini akan menjadi milikku.” Kata Caca sambil tertawa bahagia.
Akhirnya Caca benar-benar membunuh orang tuanya. Orang
tuanya tak menyangka Caca akan melakukan hal itu kepada mereka. Caca bahagia
karena apa yang dia inginkan sudah tercapai. Dan kini hanya dia sendiri yang
menghuni rumah itu.
Lama kelamaan, Caca
mulai kesepian, dia mulai sadar atas kesalahan yang telah diperbuatnya. Dia
menyesal telah membubuh orang tua dan saudara kembarnya sendiri. Akhirnya dia
membunuh dirinya sendiri dengan cara gantung diri di pintu depan rumah itu.
***
“ Begitu ceritanya.” Ucap Bapak penjaga sekolah.
“ Pantas saja pak, aku pernah mendengar suara
ketukan pintu yang berasal dari pintu depan rumah.” Kataku.
“ Iya dik. Kamu harus hati-hati tinggal disana
karena arwah Caca masih bergentayangan.” Kata bapak penjaga sekolah.
“ Iya Pa, terima kasih ya pa sudah mau menceritakan
tentang rumah yang aku tempati sekarang.” Kataku pada bapak penjaga sekolah
sambil meninggalkannya.
“ Iya de sama-sama.” Jawabnya.
Aku
segera pulang dan aku ingin menceritakan semua hal ini pada ibu dan ayah tetapi
aku tahu bahwa ibu dan ayah masih bekerja. Kini aku tahu mengapa seseorang yang
pernah ku temui di ruang tamu itu mengajakku bermain bersamanya yaitu karena
kesepian.
BAB
6
BERTEMU
ARWAH CACA
Setelah aku mendengar cerita dari bapak penjaga sekolah,
aku tidak heran lagi kalau ada sesuatu yang aneh di rumah ini. Aku ngin sekali
bertemu arwah Caca. Aku ingin berbicara sesuatu kepadanya. Tiba-tiba udara di sekitarku
menjadi dingin sehingga bulu kundukku berdiri. Ada sosok yang sesang berdiri
didapanku dan kalian pasti tau itu adalah Caca (arwah yang masih
bergentayangan). Dia hanya tertunduk dan tidak menatap ke arahku,
“ Caca.” Panggilku pada
arwah tersebut.
Arwah tersebut hanya
diam saja dan arwah tersebuh menangis.
“ Aku tahu kenapa kamu
masih berada di rumah ini.” Kataku pada arwah Caca.
“ Tolong kakak.” Ucap
arwah itu sambil terus menangis.
“ Apa yang bisa ku
bantu untukmu?” Tanyaku.
“ Tolong kamu makamkan
mayat saudaraku Cici yang ada di halaman belakang rumah.” Pinta arwah itu
kepadaku.
“ Akan ku beri tahu
ayah dan ibuku besok agar mayat saudaramu segera dimakamkan.” Kataku.
“ Bantu aku lagi agar
aku bisa bertemu dengan semua arwah keluargaku.” Pinta arwah itu padaku juga.
“ Aku harus bagaimana?”
aku bertanya sambil kebingungan.
“ Kau panggil saja, keluarga
caca kemarilah.” Kata arwah itu.
“ Emm… baiklah.”
Jawabku.
“ Arwah keluarga caca
kemarilah.” Kataku.
Tiba-tiba di dalam ruangan tersebut keluar tiga sosok
hantu yang pasti itu adalah ayah, ibu, dan saudara caca. Aku menyaksikan
anggota keluarga itu berkumpul di dalam ruangan dimana aku berada.
“ Ibu, ayah, cici
maafkan aku yang telah tega membunuh kalian demi sesuatu yang tak berharga
dibandingkan dengan kalian semua.” Ucap arwah itu sambil menangis.
“ Ibu dan ayah telah
memafkanmu nak.” Ucap arwah ibu dan ayah caca.
“ Aku juga telah
memaafkan kakak.” Ucap arwah cici.
“ Terima kasih ibu,
ayah, cici. Aku menyesal telah melakukan itu pada kalian padahal kalian sangat
menyanyangiku.” Kata arwah caca yang masih terus menangis.
“ Kemarilah nak. Kita
semua harus pergi dari dunia ini. Tempat kita sudah bukan disini lagi.” Ucap
arwah ibu caca.
“ Iya kak ayo kita
pergi dari sini.” Ajak arwah cici pada kakaknya (caca).
“ Dengan senang hati aku
akan ikut kalian.” Kata arwah caca.
Sebelum arwah caca pergi, dia mengucapkan sesuatu padaku.
“ Terima kasih Cinta,
kau sudah menolongku.” Kata arwah caca padaku.
“ Iya sama-sama, tenang
ya di alam sana.” Kataku.
“ Iya.” Kata arwah
caca.
Mereka semua menghilang dari hadapanku. Aku melihat
kebahagiaan yang terpancar dari wajah keluarga tersebut. Aku bahagia bisa
membantu arwah caca menyelesaikan masalahnya.
***
Keesokan harinya aku menceritakan peristiwa ini pada ayah
dan ibuku lalu kami meminta polisi untuk mengecek halaman belakang rumah dan
benar saja disana ditemukan mayat seorang perempuan. Itu adalah mayat cici.
Akhirnya kami memakamkan jenazahnya dengan layak. Lalu ayah dan ibuku
menanyakan bagaimana aku bisa seberani ini menolong arwah yang bergentangan di
rumah ini. Aku menceritakan semuanya dan aku meminta gar dan ibu percaya pada
kata-kataku.
“ Ayah dan ibu jangan
menganggap aku sedang berhalusinasi lagi ya.” Kataku pada ayah dan ibu.
“ Iya nak, maafkan ibu
yang tidak percaya padamu.” Kata ibuku,
“ Ayah juga minta maaf
padamu.” Ucap ayahku.
“ Iya ayah, iya ibu aku
sudah memaafkan kalian.” Kataku sambil memeluk ayah dan ibu.
“ Ayah bangga punya
anak sepertimu, nak.” Ucap ayahku sambil mencium keningku.
“ Aku sayang ayah dan
ibu.” Kataku pada mereka.
“ Ayah dan ibu juga
sayang padamu.” Kata ayah dan ibu.
Akhirnya aku bisa hidup dengan tenang dan aku bisa
menjalankan aktivitas seperti biasanya. Owhh iya kawan pembaca novelku ini.
Kita bisa memetik pelajaran dari isi novel ini. Apa pelajarannya coba? Bukan
biologi, bukan matematika, bukan kimia, apalagi fisika.. bukan yaa.. hehehe…
Jadi
pelajaran yang bisa kita ambil dari novel ini adalah kita harus menyayangi
keluarga kita karena keluarga adalah sesuatu hal yang berharga dalam hidup
kita, apalagi seorang ibu. Beliau yang merawat, mendidik, dan menyayangi kita
dari kecil sampai dewasa. Bukan hanya itu kita juga jangan jadi orang yang
serakah, karena sifat serakah bisa membawa kita ke hal-hal yang buruk seperti
apa yang dilakukan caca pada keluarganya. Kita harus bersyukur atas apa yang
kita miliki hari ini dan nanti.
Mungkin
sekian novel yang saya buat. Semoga bermanfaat dan menjadi pelajaran untuk kita
semua.
Keren nih, langsung full story dan gak gantung ceritanya jadi suka.
BalasHapusCeritanya menarik, bagus nur👍🏻
BalasHapusWaw keren ga dibuat ngegantung, asik nih horor horor👍
BalasHapusCeritanya menarik 👍
BalasHapusKayanya terinspirasi dari film horor😁 ditunggu karya berikutnya 💪💪
BalasHapusBagus nih tentang horor. anti mainstream
BalasHapusCeritanya menarik.
BalasHapusKeren👍👍
BalasHapusKeren👍👍
BalasHapusMenarik, tetap semangat dlm berkarya!
BalasHapusMenarik, tetap semangat dlm berkarya!
BalasHapus👍
BalasHapusBagus nur ceritanya👍
BalasHapusBagus nur ceritanya👍
BalasHapus👍
BalasHapusKeren kak
BalasHapus